.

BANGUNAN SEKOLAH DENGAN ARSITEKTUR KUNO

Meskipun sudah beberapa kali mengalami renovasi, namun ciri khas bangunan kuno ( peninggalan Belanda ) masih tetap dilestarikan. Memberi kesan antik, nyaman, dan asri

PANGARSANING PAWIYATAN

Bp. SUBITO, S.Pd...Berkomitmen tinggi pada peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

GARDA DEPAN PENGGODOGAN OUTPUT

Bp. SUTAP, S.Pd.SD....Penanggungjawab tungku terakhir dalam rangka menghasilkan output yang mampu menjawab tantangan jaman....

BENTENG DEKADENSI MORAL

Bo. H.BAHRUDDIN, S.Pd.I...Menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang selain cerdas, namun juga harus santun dan beriman.

TENANG NAMUN PASTI

Ibu Hj.SRI MULYANI, S.Pd.SD.... sosok yang tenang, penyabar, namun memiliki semangat yang tinggi untuk meningkatkan profesionalitas, demi menyiapkan generasi yang berkualitas....

ENERJIK, ULET, DAN PANTANG MENYERAH

Ibu DALATI, S.Pd...Dengan motto "tak ada sesuatu yang tak bisa dikerjakan" dan pembawaan yang enerjik, ulet, serta pantang menyerah...generasi penerus yang membanggakan bisa diwujudkan.

MUDA PENUH KREATIFITAS

Ibu DWI INDRATI, S.Pd.SD....Siap menjalankan kewajiban dengan penuh semangat dan kreatif demi mewujudkan anak-anak yang mandiri.

PENUH SEMANGAT DAN VITALITAS

Bp. LATIF MUJIYANTO, S.Pd.....Generasi muda yang siap berbakti bagi pertiwi....Semangat..!!

MENSANA IN CORPORE SANO

Bp. P.SISWAHYUDI, S.Pd....Selain menyiapkan generasi yang cerdas, terampil, santun, dan berkhlak mulia, namun juga harus sehat jasmaninya.

OPS...OPS....SOS.....SOS....

Ibu FARIDA SETYANINGSIH....Bidang yang dikerjakan memang memerlukan sikap cerdik, dan kadang-kadang tahan banting, sert tahan nafas karena banyak rasa was-was....

JAGABAYA LAN JURU PAES

Bp. HAIDIR.....Bidang yang dkerjakannya memang memerlukan ketelitian dan kesiap-siagaan yang tinggi, diperlukan juga ketelatenan demi terwujudnya lingkungan sekolah yang asri, nyaman, aman.

Senin, 10 November 2014

BELAJAR SAMBIL BERMAIN




Permainan berjudul “SEBANYAK MUNGKIN”

Tujuan

Mengetahui lebih detail kegemaran atau hobi orang lain.
Melatih kecerdasan interpersonal.
Membuat suasana lebih akrab.
Prosedur permainan:

Guru menjelaskan tujuan materi sehingga tahu apa manfaat permainan ini bagi para siswa.
Siswa diberi satu lembar kertas format perkenalan sesuai kebutuhan dengan tiga pertanyaan, yaitu nama, hobi, dan kegemaran. Guru mengajak siswa untuk lebih mengenal siswa lain dengan lebih dalam. Seluruh siswa menuliskan hasilnya pada kertas yang sudah disediakan. Menulis nama dengan tinta merah, menulis alamat dengan tinta biru, dan menuliskan hobi atau kegemaran dengan tinta hitam.
Keberanian siswa untuk bertanya berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkenalan. Setelah waktu tertentu guru menanyakan hasilnya kepada seluruh siswa, Siswa mana yang paling banyak berkenalan dan siswa yang mana mendapat paling sedikit.
Guru menguji siswa yang mendapat perkenalan terbanyak dengan meminta hobi atau kegemaran dari siswa terakhir yang disebutkan tanpa melihat kertas perkenalan. Berilah hadiah kepada peserta yang mendapat kenalan paling banyak.
Pembahasan:
Permainan ini dapat dilakukan baik terhadap siswa kelas baru ataupun kelas lama yang sudah saling kenal. Permainan pada siswa kelas baru akan lebih menarik karena tidak saling kenal. Suasana akrab akan segera muncul dalam proses perkenalannya. Khusus pada siswa lama, perkenalan lebih detail baru saja diketahui. Siswa jadi lebih mengetahui kegemaran siswa masing-masing.

Refleksi
Permainan berakhir dengan kegembiraan. Siswa diminta memberikan komentar atas kegiatan yang baru dimainkan. Guru menghubungkan manfaat permainan tadi dengan kehidupan nyata.

Variasi
Guru dapat memulai permainan ini dengan variasi media yang berbeda. Untuk kelompok siswa berusia muda yang sulit menuliskan pendapat orang lain, dapat menggunakan balon sebagai media. Pilihlah balon yang berkuli tebal agar tidak mudah pecah. Peserta yang paling banyak mendapat tulisan nama di balon dipilih sebagai pemenang.

Kelompok/individu : individu
Waktu : 30-60 menit
Lokasi : di ruangan/halaman
Jumlah siswa : 20-40 anak
Usia : 10-18 tahun



Permainan berjudul “MENGINGAT AKU”

Tujuan

Membangun kepercayaan diri.
Menumbuhkan kreativitas.
Prosedur permainan:
1.      Guru menjelaskan cara permainan tahap demi tahap.
2.      Setiap siswa akan memperkenalkan diri dengan cara yang menarik,
3.      Perkenalan terdiri dari nama atau hubungannya dengan nama kecil/lengkap, alamat, dan kegemaran. Setiap siswa bebas memperkenalkan dirinya dengan cara yang dapat diingat orang lain.
4.      Guru memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir agar mampu mengenalkan dirinya dengan pemulaan yang menarik.

Pembahasan:
Permainan ini biasa dimainkan kepada siswa baru. Khususnya siswa muda berusia antara 10-12 tahun. Guru perlu banyak memancing kemampuan siswa. Guru memfokuskan pada sesuatu yang menarik dari diri tiap siswa. Siswa mencoba memikirkan cara memperkenalkan dirinya dari waktu yang diberikan guru. Secara bergantian guru memanggil siswa untuk tampil dengan urutan acak agar lebih terkondisikan.

Refleksi
Permainan berakhir dengan hubungan pertemanan yang akrab. Setelah semua siswa memperkenalkan dirinya, guru bertanya kepada seluruh siswa, siapa yang paling diingat. Kemudian siswa secara bergantian diminta menyebutkan alasannya.

Variasi
Guru dapat memulai permainan ini dengan variasi media yang berbeda. Untuk kelompok siswa berusia lebih dewasa, permainan bisa menggunakan istilah bahasa yang lebih rumit. Misalnya menghubungkan namanya dengan kota kelahiran yang mempunyai persamaan bunyi akhiran.

Kelompok/individu : kelompok dan individu
Waktu : 15-30 menit
Lokasi : di ruangan/halaman
Jumlah siswa : 20-40 anak
Usia : 7-18 tahun





Permainan berjudul “DOR”

Tujuan

Melatih konsentrasi.
Belajar berani mengakui kesalahan.
Prosedur permainan:

Guru mengajak seluruh siswa duduk dalam lingkaran besar.
Semua siswa duduk agak renggang untuk memudahkan pergerakan.
Guru memberikan penjelasan aturan permainan. Semua siswa diminta untuk berkonsentrasi dan memusatkan perhatian awal untuk berhitung dari urutan satu hingga terakhir secara bergantian ke arah kanan.
Setelah semua terkondisikan, permainan dimulal dengan menghitung mengurutkan angka satu hingga seterusnya.
Setiap angka lima dan kelipatannya, siswa yang berurutan menyebutkan kata, ‘DOR’.
Siswa yang salah, mendapat hukuman atau tetap bermain sesuai kesepakatan.
Pembahasan:
Permainan ini biasa dimainkan pada kelompok yang udah saling kenal. Guru yang menentukan awal permainan. Guru mengarahkan agar siswa mengambil keputusan pada siswa yang salah langkah, tetap bermain atau keluar lingkaran. Guru membantu membangun suasana agar tetap berkonsentrasi, sehingga setiap siswa mampu mengurutkan dengan benar ketika gilirannya harus menyebutkan angka.

Refleksi
Permainan berakhir dengan kegembiraan. Biarkan siswa memberikan komentar atas permainan yang baru dimainkan. Kemudian guru menjelaskan manfaat permainan dengan kehidupan nyata.

Variasi
Permainan bisa dilanjutkan pada tahap yang lebih menantang tergantung kelompok usia anak dan kemampuannya. Guru dapat memulai permainan ini dengan variasi aturan yang berbeda. Untuk kelompok siswa berusia lebih dewasa,  permainan bisa menggunakan pengurutan yang lebih kompleks. Misalnya mengurutkan kelipatan lima. Setiap muncul angka lima berkata, ‘DOR’, dan setiap muncul angka nol berkata, ‘HORE’ atau bisa menggunakan urutan bilangan prima dan bentuk dua operasi bilangan yang rumit.

Kelompok/individu : kelompok
Waktu : 30-45 menit
Lokasi : di ruangan/halaman
Alat dan Bahan : pulpen dan pensil
Jumlah siswa : 20-40 anak
Usia : 10-18tahun




Permainan Berjudul “PULPEN DAN PENSIL”

Tujuan

Membangun konsentrasi.
Memberikan suasana yang menyenangkan.
Prosedur Permainan:
1.      Guru mengajak siswa duduk dalam lingkaran kelompok kecil antara 8 sampai 10 siswa.
2.      Guru menerangkan cara permainan kemudian menunjuk salah satu siswa sebagai pimpinan permainan dan menjadi siswa sentral yang memulai kegiatan ini. Siswa lainnya sebagai pendukung permainan yang duduk di sekelilingnya membentuk satu lingkaran penuh. Pimpinan (siswa sentral) memegang dua benda, Satu benda berupa pulpen dipegang pada tangan kanan dan pensil dipegang pada tangan kiri.
3.      Kemudian, pimpinan permainan ini menunjukkan pulpen kepada siswa di samping kanannya sambil mengatakan, “INI PULPEN.” Siswa yang berada di samping kanan siswa sentral bertanya, “APA”. Kemudian, siswa sentral rnemberikan pulpen kepada siswa yang bertanya tadi sambil berkata, “INI PULPEN.”
4.      Sambil berjalannya proses pertama, siswa sentral menunjukkan pensil kepada siswa di samping kirinya sambil mengatakan, “INI PENSIL.” Siswa yang berada di samping kiri siswa sentral bertanya, “APA.” Kemudian, siswa sentral rnemberikan pensil kepada siswa yang bertanya tadi sambil berkata, “INI PENSIL.”
5.      Kegiatan ini berlangsung terus-menerus dengan ujung pertanyaan dan jawaban ada pada siswa sentral. Permainan dilombakan antar kelompok kecil. Kelompok yang berhasil menyelesaikan terlebih dulu dinyatakan sebagai kelompok pemenang.

Pembahasan:
Permainan ini sangat menguras konsentrasi pemain. Pertanyaan dan jawaban akan sambung-menyambung seperti air yang mengalir. Siswa sentral yang menjadi karang. Sebagai sumber pertanyaan dan sumber jawaban, seperti air yang membentur batu karang akan kembali beriak. Guru dengan telaten memberi instruksi di awal. Guru memberikan waktu beberapa menit agar kelompok kecil bisa mencoba. Setelah berjalan, siswa akan memahaminya sendiri cara bermain. Guru bertindak sebagai wasit, menentukan aturan main berjalan dan memberikan penalti kepada kelompok kecil yang salah langkah.

Refleksi
Permainan berakhir, setelah semua kelompok kecil menyelesaikan permainannya. Biarkan siswa mengulas permainan tadi beberapa saat. Setelah berkumpul dalam lingkaran besar, berilah kesempatan setiap siswa atau perwakilan siswa atau beberapa siswa yang bersemangat menyampaikan pendapatnya. Manfaat yang didapatkan harus berhubungan dengan kehidupan nyata.

Variasi
Permainan bisa menggunakan material lain selain pulpen dan pensil. Misalnya batu dan kayu, daun dan ranting, dan lain sebagainya. Upayakan menggunakan material yang sudah dikenal siswa untuk memudahkan ingatan dan pengucapan.

Kelompok/individu : kelompok
Waktu : 15-30 menit
Lokasi : di ruangan
Alat dan Bahan : kertas dan pensil
Jumlah siswa : 20-40 anak
Usia : 10-18 tahun




Menggunakan Media Pembelajaran dalam mengajar ( Antara Enggan dan Keharusan )



Sepakat ataupun tidak sepakat, kita memang harus sepakat, bahwa media pembelajaran  memiliki  peran yang sangat penting dan sangat besar dalam rangka membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Banyak jenis dan ragam media di sekitar kita yang dapat  kita temukan dan kembangkan untuk dapat kita gunakan  sebagai sarana penunjang pembelajaran.  Apalagi di era sekarang ini, dengan kemajuan iptek yang begitu pesatnya, kita bebas mengakses apapun yang kita butuhkan tanpa mengenal tempat dan waktu,  kapan dan di mana saja kita bisa mengakses inforamsi yang yang kita butuhkan. Dengan kemudahan tersebut sangat terbuka lebar ruang kita sebagai pendidik untuk senantiasa mengembangkan kreatifitas, berinovasi untuk dapat menghasilkan produk-produk media pembelajaran. Masalahnya adalah, mau apa tidak...? Mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar..? Apalagi berinovasi untuk membuatnya..?

Beberapa alasan  berikut, mungkin merupakan jawabannya. 
Pertama, guru menganggap bahwa menggunakan media itu menambah repot.  Jika kita jujur,  barangkali inilah alasan utamanya. Mengajar dengan menggunakan media memang perlu persiapan. Apalagi jika media itu menggunakan  peralatan elektronik seperti video atau komputer. Guru sudah repot dengan membuat  persiapan  mengajar, jadwal yang  padat, mengejar target kurikulum, dan lain-lain. Belum lagi repot dengan urusan keluarga. Mana sempat lagi memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemukakan oleh para guru. Padahal kalau saja para guru itu mau berpikir dari aspek yang lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alasan repot itu akan menjadi tidak relevan lagi. Hal yang harus kita pertimbangkan adalah bahwa  dengan sedikit repot, namun dengan media kita akan memperoleh hasil yang optimal. Namun kenapa masih ada keengganan...? Masih ada anggapan bahwa pembuatan media hanya digunakan untuk sekali pembelajaran. Padahal sesungguhnya banyak jenis media sederhana yang bisa digunakan dalam jangka waktu lama.   Sekali kita menyiapkan media, selanjutnya tidak repot lagi, karena media akan dapat digunakan untuk beberapa kali sajian dengan sasaran yang berbeda-beda.
Kedua, ada lagi yang beranggapan bahwa media merupakan barang canggih dan mahal.  Alasan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Media tidak selalu canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya, apalagi kemahalan harganya, melainkan terletak pada efektifitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan beaya murah. Kalaupun  kita menggunakan jenis media canggih semacam media audio-visual, hal ini juga akan menjadi murah jika dimanfaatkan oleh lebih banyak siswa.  

Ketiga, kekurangsiapan guru itu sendiri, semisal : tidak bisa atau takut menggunakan ( gagap teknologi ). Gagap teknologi (gaptek), ternyata juga masih dialami oleh sebagian guru kita. Ada beberapa guru yang masih merasa “asing dan takut” dengan peralatan elektronik. Mungkin takut kesetrum atau takut salah pencet. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah takut rusak. Dengan alasan seperti itu,  maka di beberapa sekolah  banyak peralatan media yang masih tetap tersimpan rapih di ruang penyimpanan, belum pernah dimanfaatkan sejak peralatan itu ada. Padahal sesungguhnya dan seharusnyalah, bahwa lebih baik peralatan itu rusak dipakai daripada rusak (juga) dalam kemasan. Kalau saja kita mau mencoba dan sedikit berlatih, membiasakan diri, istilah   “tidak bisa “  dan “takut”  tak akan  lagi menjadi alasan.

Keempat, media itu hanya untuk hiburan sedangkan belajar itu harus serius. Alasan ini memang jarang ditemui, namun ada guru yang berpandangan demikian. Jaman dulu, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang serius sedangkan media identik dengan hiburan. Tidak mungkin melakukan proses belajar sambil santai. Sebuah paradigma yang harus dirubah.  Jika belajar dapat dilakukan dengan menyenangkan, mengapa harus dilakukan dengan tegang dan menyeramkan..? Semestinya para praktisi pendidikan  harus bisa mengembangkan media yang  bisa membelajarkan siswa sekaligus menghibur.  Alangkah idealnya jika kita mampu membuat sebuah media yang bisa menyajikan pesan-pesan belajar, sambil menghibur siswa.  Ini memang sangat membutuhkan terobosan bagi guru untuk mengembangkn kreatifitas .  Jika diibaratkan minuman, media hiburan itu seperti minuman kemasan, sedangkan media pembelajaran seperti  jamu.  Wajar jika anak lebih suka minum minuman kemasan dibanding dengan minum jamu. Sekalipun kita mengatakan  bahwa media pembelajaran itu penting dan menyehatkan bagai jamu, namun anak tetap saja lebih suka memilih media hiburan yang jelas-jelas lebih segar bagaikan minuman kemasan. Tugas kita adalah bagaimana bisa membuat “jamu rasa minuman kemasan”, membuat media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan namun cocok sebagai sumber belajar siswa.


Kelima, kurang tersedianya media pembelajaran di sekolah. Kurang tersedianya  media pembelajaran di sekolah merupakan alasan klsik yang sering ditemui di lapangan, terutama di daerah-daerah.  Akan tetapi seorang guru tak boleh menyerah begitu saja.  Sesuai dengan keprofesionalnya, seorang guru dituntut untuk penuh dengan inisiatif dan kreatifitas. Perlu diingat bahwa, salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yang profesioal adalah kemampuannya dalam memanfaatkan media pembelajaran. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, media tidak harus canggih. Banyak jenis media yang dapat dibuat sendiri oleh guru.  Guru bisa membimbing siswa , misalnya, untuk mengoleksi berbagai benda, binatang atau  tumbuhan tertentu yang kemudian disimpan secara khusus untuk dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa. Jika setiap guru melakukan hal ini sesuai sesuai bidang pelajaran masing-masing,  maka   alangkah beraneka ragamnya jenis sumber belajar yang ada di sekolah. Bagi pimpinan sekolah, pengadaan media pembelajaran di sekolah hendaknya juga menjadi program rutin yang perlu diperhatikan, terutama untuk pengadaan jenis media yang tidak mungkin dibuat sendiri oleh guru. Jangan biarkan ruang kelas gersang hanya ada papan tulis dan kapur. Karena pada era sekarang sudah bukan jamannya lagi proses pembelajaran hanya bersifat “kapur dan tutur” atau “chalk and talk”.

Keenam, Adalah kebiasaan guru yang hanya mengandalkan ceramah. Mengajar dengan hanya mengadandalkan verbalistik saja memang lebih mudah, tidak perlu banyak persiapan.  Dari kepentingan guru, cara tersebut memang lebih enak. Namun kita harus mempertimbangkan kepentingan siswa yang belajar, bukan selera guru semata.  Bagi guru yang pandai bicara,   mengajar dengan mengandalkan ceramah  mungkin saja bisa menarik perhatian siswa.  Namun tidak semua guru memiliki kepiawaian untuk “berpidato”  yang mampu memikat seluruh siswanya.  Lagi pula, bukankah tidak semua topik dan jenis materi pelajaran cocok untuk disajikan melalui ceramah?  Seorang guru yang ahli berceramah sekalipun , justru akan semakin efektif  jika ceramah tersebut dibantu dengan berbagai macam media penunjang.  Guru yang baik perlu menggunakan multi metode dan multi media dalam melakukan kegiatan pembelajaran, bukan hanya “kapur dan tutur” atau “chalk and talk” seperti tersebut di atas.   Media pembelajaran bukan sekedar berfungsi sebagai alat bantu mengajar, melainkan media itu sendiri juga dapat memerankan fungsi sebagai penyampai pesan belajar.    Dengan begitu, tidak semua  informasi pelajaran harus disajikan oleh guru.  Apalagi kita menyadari bahwa guru bukanlah manusia super yang serba bisa dan serba tahu tentang segala informasi. Untuk itu, setiap kali  menjalankan perannya sebagai pengajar, guru membutuhkan bantuan media.  Dalam pembelajaran,  tak ada salahnya guru  berbagi peran dengan media.  Biarkanlah media membantu memerankan sebagian  tugas kita  untuk menyajikan informasi belajar. Dengan begitu, para guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk melakukan peran lain yang tak kalah penting. Di lain fihak, media hanya sebuah alat.  Di balik alat itu adalah guru, yang tetap memiliki peran sentral dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun,  proses pendidikan membutuhkan “sentuhan manusiawi”  yang tak bisa tergantikan perannya oleh media manapun. Secanggih apapun media itu, pasti memiliki kelemahan. Media  ibarat sebuah “busur anak panah” dan materi pelajaran merupakan anak panahnya. Melesat tepat pada sasaran atu tidak, adalah  sangat tergantung pada kepiawian menggunakan busur.  Adalah tugas guru untuk mengasah ketrampilannya dalam menggunakan busur tersebut, sehingga anak panah mampu melesat tepat pada sasaran yang dituju dalam rangka mencapai   tujuan pembelajarn yang diharapkan


*mbahbei ( dari berbagai sumber )

Pentingnya Media Pembelajaran






Dalam belajar mengajar hal yang terpenting adalah proses, karena proses inilah yang menentukan tujuan belajar akan tercapai atau tidak tercapai. Ketercapaian dalam proses belajar mengajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut baik yang menyangkut perubahan bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dalam proses belajar mengajar ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainaya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran. Pada kenyataannnya, apa yang terjadi dalam pembelajaran seringkali terjadi proses pengajaran berjalan dan berlangsung tidak efektif. Banyak waktu, tenaga dan biaya yang terbuang sia-sia sedangkan tujuan belajar tidak dapat tercapai bahkan terjadi noises dalam komunikasi antara pengajar dan pelajar. Hal tersebut diatas masih sering dijumpai pada proses pembelajaran selama ini.

Dengan adanya media pembelajaran maka tradisi lisan dan tulisan dalam proses pembelajaran dapat diperkaya dengan berbagai media pembelajaran. Dengan tersedianya media pembelajaran, guru pendidik dapat menciptakan berbagai situasi kelas, menentukan metode pengajaran yang akan dipakai dalam situasi yang berlainan dan menciptakan iklim yang emosional yang sehat diantara peserta didik. Bahkan alat/media pembelajaran ini selanjutnya dapat membantu guru membawa dunia luar ke dalam kelas. Dengan demikian ide yang abstrak dan asing (remote) sifatnya menjadi konkrit dan mudah dimengerti oleh peserta didik. Bila alat/media pembelajaran ini dapat di fungsikan secara tepat dan proforsional, maka proses pembelajaran akan dapat berjalan efektif.

Dalam pembelajaran, alat atau media pendidikan jelas diperlukan. Sebab alat/ media pembelajaran ini memiliki peranan yang besar dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan.
Kegunaan media pembelajaran  dalam proses belajar mengajar diantaranya;
1.     Media Pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan supaya tidak terlalu verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis atau hanya kata lisan)
2. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, misalnya;objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai, film, atau model. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar. Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, atau foto. Objek yang terlalu kompleks, dapat disajikan dengan model, diagram atau melalui program komputer animasi. Konsep yang terlalu luas (gempa bumi, gunung beapi, iklim, planet dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar dan lain-lain.
3.    Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk; menimbulkan motivasi belajar memungkinkan interaksi langsung antara anak didik dengan lingkungan secara seperti senyatanya. Memungkinkan peserta didik belajar mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
4.  Dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda diantara peserta didik, sementara kurikulum dan materi pelajaran di tentukan sama untuk semua peserta didik.hal ini dapat diatasi dengan media pendidikan yaitu;
-          memberikan perangsang yang sama
-          mempersamakan pengalaman
-          menimbulkan persepsi yang sama

Sementara itu Abu Bakar Muhammad, berpendapat bahwa kegunan alat/ media pembelajaran itu antara lain adalah 1) mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang sulit, 2) mampu mempermuda pemahaman dan menjadikan pelajaran lebih hidup dan menarik, 3) merangsang anak untuk bekerja dan menggerakkan naluri kecintaan menelaah (belajar) dan menimbulkan kemauan keras untuk mempelajarai sesuatu, 4) membantu pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, memperhatikan dan memikirkan suatu pelajaran serta, 5) menimbulkan kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam indera, melatihnya, memperluas perasaan dan kecepatan dalam belajar.


Dengan demikian, apabila pembelajaran memanfaatkan lingkungan sebagai  alat/ media pembelajaran dalam proses belajar mengajar maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, sehingga besar kemunkinan dengan memperhatikan alat/ media pengajaran itu tujuan pembelajaran akan tercapai dengan efektif dan efisien. Variasi dalam pembelajaran dengan menjadikan lingkungan sebagai media belajar menyenangakan akan mendukung pelajaran yang tidak membosankan bahkan menjadikan belajar semakin efektif.


mbahbei ( dari berbagai sumber )

APLIKASI KP-4


Sabtu, 08 November 2014

TIPS MUDAH MERAWAT FLASHDISK




Limit Komputer | Terkadang kita sering menggunakan flashdisk untuk hal yang penting karena ukurannya yang kecil dan kapasitasnya tercukupi. namun kadang orang tidak memperdulikan bagaimana cara merawat flashdisk yang benar? karena menurut mereka flashdisk agak sulit rusak. pemikiran tersebut tentunya saja sangat salah. Lalu bagaimanakah cara merawat flashdisk agar tahan lama? berikut tipsnya

1. Usahakan flashdisk di jauhkan dari medan magnet seperti speaker dan semacamnya, supaya             penyimpanan data tidak tergangu.

2. Simpanlah flashdisk di tempat yang bersih dan kering, agar tidak membuat flashdisk menjadi kotor dan berkarat.

3. Pastikan anda selalu backup data ke komputer agar selalu terlindungi oleh anti virus supaya keamananya selalu terjamin

4. Setiap kita gunakan flashdisk di komputer lain scan lah dengan antivirus agar virusnya hilang dan tidak terbawa ke komputer kita

5. Jangan sesekali memukulnya atau menjatuh-jatuhkanya agar komponen di dalamnya awet dan tidak rusak

6. Selalu jaga flashdisk anda dari suhu ruangan, agar komponen di dalamnya tidak rusak.

7. Setiap anda ingin mencuci pakaian periksalah terlebih dahulu di dalam saku, agar flashdisknya tidak ikut tercuci

8. Jangan biasakan selalu mencabutnya tanpa di Eject

9. Jangan terlalu sering mengedit-edit file di dalam flashdisk, usahakan mengedit file di
dalam harddisk kalau sudah selesai baru di Copy dan Paste ke Flashdisk

10. Jangan terlalus sering mem-format flashdisk karena akan mengurangi jumlah batasan hapus tulis

11. Selalu defrag flashdisk minimal sebulan sekali, agar kinerja flashdisk menjadi optimal

12. Jagalah tutup flashdisk, karena tutup flashdisk yang hilang akan membuat flashdisk menjadi kotor

Begitulah tips yang bisa saya sampaikan buat kalian semua. semoga bermanfaat selalu, bagi yang membacanya, terima kasih.

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DI TINGKAT SD





Oleh
Taufik Hidayat

Di era sekarang, karakter merupakan sesuatu yang jarang ditemukan pada masyarakat Indonesia. Dilihat dari banyaknya ketidakadilan serta kebohongan-kebohongan yang dilakukan masyarakat kita. Bahkan ditingkat yang lebih tinggi sendiri, yaitu pemerintah yang tak mengenal lagi sebuah karakter diri sebagai makhluk Tuhan dan sosial. Menurut Prof. Suyanto Ph.D,karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Potensi karakter yang baik telah dimiliki tiap manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan-natural). Pendidikan merupakan salah satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Sekolah Dasar adalah merupakan pendidikan awal penanaman karakter anak dalam perkembangan dirinya. Tak bisa kita mungkiri bahwa banyaknya generasi di Indonesia, yang tidak mengenal dirinya sebagai bangsa Indonesia—yang memiliki berbagai macam suku, budaya, dan kultur sosial yang berbeda.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran atau amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Meskipun semua pihak bertanggungjawab atas pendidikan karakter calon generasi penerus bangsa (anak-anak), namun keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Untuk membentuk karakter anak, keluarga harus memenuhi tiga syarat dasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Yaitu,maternal bonding, rasa aman, stimulasi fisik dan mental. Selain itu, jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya juga menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak di rumah. Kesalahan dalam pengasuhan anak di keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru (didengar dan dicontoh), dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Kegagalan guru dalam menumbuhkan karakter anak didiknya, disebabkan seorang guru yang tak mampu memperlihatkan dan menujukkan karakter sebagai seorang yang patut didengar dan diikuti. Sebagai seorang gurutidak hanya sekedar menyampaikan materi ajar kepada siswa. Namun, yang lebih mendasar dan mutlak adalah bagaimana seorang guru dapat menjadi inspirasi dan suri tauladan yang dapat merubah karakter anak didiknya—menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya sebagai makhluk Tuhan dan sosial.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Jika karakter anak telah terbentuk sejak masa kecil mulai dari lingkungan sosial sampai Sekolah Dasar, maka generasi masyarakat Indonesia akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter—yang dapat menjadi penerus bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, jujur, bertartanggung jawab—sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tentram sebuah suatu negara.Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.


Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.